Belakangan ini gue sedang banyak berpikir. Saking malasnya belajar, waktu yg seharusnya dipergunakan untuk mempersiapkan bahan un atau uas gue alokasikan untuk berpikir. Pada kesempatan kali ini juga, gue seharusnya belajar untuk tryout ekonomi dan bahasa besok, tetapi... Malas. Penat. Mau curhat aja.
Gue yakin, semua manusia pasti punya mimpi.
Gue termasuk orang yang sangat suka bermimpi, baik di alam bawah sadar ataupun saat gue sedang terjaga, baik realistis ataupun sekedar berhayal. Mimpi secara harafiah yg hanya terjadi waktu tidur gue biasanya memuat cerita absurd tentang orang-orang atau masalah-masalah yang sedang banyak menghuni relung otak gue. Mimpi yang satunya lagi adalah mimpi yang paling sering diomongin orang dan sering banget masuk ke quote-quote terkenal, seperti "Bermimpilah setinggi mungkin, sampai Tuhan memeluk mimpi-mimpimu." dari bukunya Andrea Hirata dgn judul Sang Pemimpi, sampai yg paling recent, "Mimpi-mimpi kamu, cita-cita kamu, keyakinan kamu, apa yang kamu mau kejar, biarkan ia menggantung, mengambang “5 cm” di depan kening kamu.” Asik abis.
Kalau ditanya soal mimpi atau cita-cita gue apa, gue akan menjawab tidak tahu. Dan menanggapi reaksi gue, kemungkinan besar ibunda awak akan berkata, "Gimana sih, udah kelas 3 sma masih belum tahu mau jadi apa?"
Ngomongin masa depan adalah hal yg super rancu. Gue merasa gue belum cukup melihat dunia dan mengeksplor apa yang ingin gue lakukan dan apa hal-hal yang akan gue sukai sampai gue mati nanti. Apalagi nggak perlu dibahas lagi seberapa labilnya anak-anak setengah dewasa macam gue ini. Gue takut gue membuat kesalahan yg akan pengaruh banyak ke masa depan gue. Gue takut untuk bermimpi, bercita-cita yang realistis, karena gue takut dengan mempunyai harapan untuk mencapai mimpi atau cita-cita itu gue memperbesar kesempatan untuk sakit hati dan hancur, kalau impian atau cita-cita gue itu nggak terwujud.
Bisa dibilang mental gue kentut abis. Yap gue memang penakut.
Anyway, kalau ada yang nanya mimpi gue dekat-dekat ini apa, gue ingin sekali punya gap year. Setahun libur untuk nyari jati diri. Gue ingin punya waktu untuk mengapresiasi semua musisi dan seniman yang ada di dunia. Hidup terlalu singkat untuk dihabiskan dengan mempersiapkan kesejahteraan di masa depan yang (amit-amit) belum tentu ada.
Mengutip sebuah quote dari (sepertinya sih) Buddha, "The trouble is, we think we have time." Gue bukannya sedang membujuk siapapun untuk berhenti sekolah dan melakukan apa yang mereka mau doang, but rather to not take life too seriously. Study hard, have fun, skip classes. Tell people you love them while you still can, and live with no regret. Amen.