Revolt in paradise

Friday, June 20, 2014

2

Ini mungkin merupakan tulisan yang menyentil topik politik pertama dan terakhir di blog ini.

Pada tanggal 18 Juni lalu saya berkesempatan mengikuti acara yang diadakan oleh gerakcepat.com, sebuah organisasi yang didirikan dan digerakkan oleh pemuda-pemudi se-indonesia yang peduli politik dan cinta indonesia. Menulis kalimat tersebut saya merasa seperti menuliskan sebuah baris kalimat pada buku sejarah. "Peduli politik". "Cinta Indonesia". Seperti sesuatu yang hanya bisa terjadi di masa lampau, mengetahui bagaimana skeptisnya generasi muda sekarang ditengah maraknya westernisasi (atau easternisasi?) yang tahun belakangan ini sangat kuat arusnya di negara ini.

Meskipun organisasi gerakcepat.com secara terbuka mendukung pasangan Jokowi-JK, acara yang merupakan acara diskusi tersebut mengusung topik-topik yang cukup ringan, seperti apa itu politik dan mengapa suara kita yang hanya 1 penting bagi masa depan bangsa, dan sebagainya. Para speaker dalam acara tersebut merupakan public figure yang sudah cukup tenar di masyarakat, seperti sutradara Joko Anwar, entrepreneur Yoris Sebastian, sampai bapak Anies Baswedan juga turut hadir dalam acara tersebut. Suasana Soehanna Hall sore itu dipenuhi pemuda pemudi dari berbagai golongan dan suku yang berbeda. Saya benar-benar kaget melihat cukup banyak manusia-manusia seperti saya; matanya sipit. Berhubung tingkat antusiasme di universitas saya (yang manusianya mayoritas sukunya seperti saya) sangat rendah - terhadap apapun juga, baik dalam berorganisasi maupun dan apalagi, terhadap politik - saya benar-benar kaget melihat pemandangan anak muda yang biasa di cap 'kurang indonesia' begitu peduli terhadap masa depan negara ini.

Diskusi sore itu cukup menarik dan ringan, tetapi ada satu kejadian yang cukup 'panas'. Setelah sesi pertama yaitu mengenai pengertian politik itu sendiri, diadakan sebuah sesi tanya jawab. Saya kurang mengingat pertanyaan ini, karena yang lebih menarik perhatian saya adalah sang penanya. Bukan, bukan karena ia ganteng, tetapi beliau sudah tidak terlalu muda dan gaya bicaranya tidak terlalu fasih, seperti masih sangat kental aksen cina nya (entah cina yang mana, ada beragam sekali). Sang narasumber, Iwet Ramadhan, menanggapi pertanyaan orang ini dengan sapaan 'koh'. Setelah selesai menjawab pertanyaan, orang ini kembali berbicara di mikrofon dan menyampaikan kekecewaannya soal generasi muda sekarang, dan menyayangkan mengapa Iwet harus memanggil dirinya dengan embel-embel koh yang terkesan merendahkan sukunya.

Atmosfer ruangan yang tadinya ringan dan santai langsung tegang. Selanjutnya, Iwet berusaha menjelaskan bahwa ia sama sekali tidak berniat untuk merendahkan orang ini dengan memanggil dia 'ko', melainkan karena ia melihat orang ini lebih tua dan memanggil dia sesuai dengan sapaan yang berlaku di kebudayaannya. Jika orang Jawa maka akan dipanggil mas, atau abang dan sebagainya. Saya tentu saja memaklumi hal ini, tetapi sepertinya si 'kokoh' ini tidak puas akan jawaban tersebut dan masih emosi.

Saat itulah sebuah sosok yang sedari tadi memotret-motret di depan panggung angkat bicara pada mikrofon yang diperuntukkan untuk penanya di sisi lain dari tempat si kokoh itu. "Permisi ko, saya boleh ngomong sebentar? Sama-sama sipit ini." Ia kemudian memperkenalkan diri sebagai Edward Suhadi, seorang fotografer yang sudah cukup terkenal dan salah satu relawan dari gerakcepat.com. Ia kemudian berusaha menenangkan si 'kokoh' dengan menceritakan bahwa ia juga melalui masa-masa orde baru dimana kaum Cina tertindas dan direndahkan. Tetapi jaman sekarang hal itu sudah tidak ada. Selama di gerakcepat.com, ia selalu dipanggil 'koh', dan itu merupakan panggilan sayang. Ia juga menjelaskan bahwa Iwet sama sekali tidak bermaksud membawa unsur SARA karena mereka sudah berteman cukup lama dan saling respek. Barulah setelah itu keadaan mulai tenang kembali.

Ada 2 hal yang sangat saya kagumi dari sosok Edward pada kejadian ini. Pertama, ia jelas-jelas lebih muda daripada si 'koh' ini tetapi ia memiliki kepekaan dan keberanian untuk langsung bertindak dan menawarkan cara berpikir yang lebih terbuka kepada orang tua ini tanpa mengurangi rasa hormat terhadap beliau.

Sebelum memulai sesi kedua, sang moderator (yang merupakan sahabat Edward) memanggilnya ke panggung dan memberikan pelukan dukungan karena "Selama ini dia mah ga pernah ngomong, diem doang moto-moto. Gue aja kaget dia sampe berani ngomong gitu". Dan sebelum turun dari panggung, dia mengucapkan sebuah kalimat yang bener-bener keren.

"Teruslah ngomong pake koh. Setelah itu baru bangsa ini bisa belajar untuk memaafkan."

Hebat banget. Dia tidak menyebutkan 'orang cina' atau 'kaum gue'. Dia sebut bangsa ini.

Lalu saat itu saya baru menyadari, bahwa saat itu saya bukan hanya berada di sebuah acara politik skala kota Jakarta saja, melainkan saya adalah bagian dari sebuah pergerakan, sebuah movement dari generasi muda yang kritis, berjiwa nasionalis, dan segala kata-kata sifat hiperbolis yang biasa hanya kita baca sekedar lewat dalam buku-buku sejarah atau kewarganegaraan, yang biarpun berasal dari berbagai latar belakang dan usia dan budaya, kami semua memiliki satu tujuan dan keinginan yang sama, yaitu keinginan akan negara yang lebih baik. Sekalipun ada perbedaan di antara kita - baik kita semua yang berada di acara tersebut maupun kita masyarakat Indonesia - semua itu dapat diatasi karena kita dipersatukan oleh satu tujuan yang lebih besar dari segala perbedaan itu; Indonesia yang maju dan bersatu. Dan untuk pertama kalinya dalam waktu yang sangat sangat lama, Indonesia actually punya kesempatan untuk memiliki pemimpin yang bisa membuat perubahan, jujur, dan terlebih dari segalanya, mementingkan dan bahkan melibatkan rakyat dalam bernegara.

Saya rasa kemunculan generasi muda yang aktif dan nasionalis ini sangat sangat dipengaruhi oleh sosok Jokowi. Sebelumnya, mungkin saja banyak orang yang seperti saya, skeptis dan cenderung masa bodoh terhadap politik Indonesia. Siapapun yang berkuasa sama saja, pasti tetap yang kaya semakin kaya dan yang miskin semakin miskin. Tetapi begitu Jokowi hadir, generasi muda (maksudnya sih, saya) seakan diingatkan bahwa masih ada manusia yang baik di Indonesia, manusia yang tidak oportunis, jujur dan mementingkan kepentingan orang lain. Memang tidak ada manusia yang sempurna dan saya yakin Jokowi memiliki kelemahannya sendiri. Tetapi pada kenyataannya pemilu sekarang sangatlah berbeda dari sebelumnya. Dibandingkan dengan calon satunya, yang walaupun mungkin merupakan orang yang baik dan tegas, tetapi begitu dikuasai oleh keinginan untuk berkuasa sehingga menghabiskan uang yang mungkin bukan hak nya untuk demi memenuhi keinginannya sendiri maupun kelompoknya, Jokowi sangatlah berbeda. Kehadirannya begitu berpengaruh di segala lapisan masyarakat, hal ini bisa dilihat dari keberagaman orang-orang yang turut menyumbang untuk kampanye beliau, mulai dari tukang cuci, supir angkot, sampai artis, semua turut peduli. (Bahkan saya yang mengaku skeptis sekarang bisa menulis banyak sekali paragraf tentang politik. Hebat.)

Mungkin ada yang beranggapan, "dia yang mau jadi presiden kenapa kita yang harus keluar duit?" Dari diskusi kemarin, ada yang berpendapat bahwa politik sejatinya seperti agama, pakai hati. Dan bagi saya sekarang, berpartisipasi - baik secara aktif maupun sebagai pengamat - di bidang politik dalam bentuk sekecil apapun, itu sudah merupakan kemajuan yang sangat besar bagi rakyat Indonesia, terutama generasi muda. Karena kami akhirnya menyadari, suara kami, walaupun kecil, penting bagi kemajuan suatu negara. Inilah pesta rakyat yang sesungguhnya.

Dan dari hal di atas saja saya rasa kita sudah bisa menyimpulkan siapa pemenangnya.

Indonesia. :-)